Khotbah Idul Fitri 1447 Hijriah yang diadakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu (21/3), menekankan bahwa makna kemenangan Lebaran tidak hanya berhenti pada perayaan, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menyampaikan khotbah dengan tema “Kemenangan Idul Fitri: Menyemai Kebaikan, Meraih Keberkahan”. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa bulan Ramadan adalah momentum untuk penyucian diri, baik secara lahir maupun batin. Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga berfungsi untuk melatih kejujuran, disiplin, dan pengendalian diri, yang pada gilirannya membawa umat pada derajat ketakwaan.
Kemenangan Sejati dalam Kehidupan Sehari-hari
Noorhaidi menegaskan bahwa kemenangan sejati tidak hanya dirayakan saat Idul Fitri, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. “Kemenangan sejati adalah ketika nilai-nilai Ramadan tetap hidup setelah bulan suci berakhir,” ujarnya. Hal ini menjadi penekanan penting bahwa kebaikan dan kemaslahatan harus senantiasa hadir dalam interaksi sosial umat.
Pentingnya Nilai Agama dalam Masyarakat
Khotbah tersebut juga menyoroti pentingnya menjadikan ajaran agama sebagai dasar dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan amanah disebut sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat dan bangsa yang bermartabat. Noorhaidi menekankan bahwa perbedaan suku, budaya, dan latar belakang di Indonesia merupakan kekuatan yang harus dijaga dan dirawat, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan
Lebih jauh, umat juga diingatkan untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Menurut Noorhaidi, manusia memiliki tanggung jawab sebagai penjaga bumi, sehingga menjaga kelestarian alam menjadi bagian dari nilai keimanan. “Kita harus berkontribusi pada alam dan lingkungan agar dapat menjaga kehidupan yang seimbang,” jelasnya.
Momentum Idul Fitri untuk Memperkuat Persaudaraan
Di akhir khotbah, Noorhaidi mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat persaudaraan, membangun perdamaian, serta berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Khotbah ini juga menyinggung peran penting Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia melalui upaya diplomasi kemanusiaan.
Salat Id di Masjid Istiqlal dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh Ahmad Husni Ismail sebagai imam, dengan Ahmad Rofiuddin Mahfudz sebagai Badal Imam. Kehadiran Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menambah khidmat pelaksanaan ibadah tersebut. Tahun ini, salat Id di Masjid Istiqlal kembali menjadi pusat perhatian masyarakat dengan dihadiri ribuan jemaah dari berbagai daerah dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.



