Blog

11 Buku Paling Banyak Ditantang di 2025, Menurut ALA

Asosiasi Perpustakaan Amerika (American Library Association/ALA) baru saja merilis daftar tahunan buku-buku yang paling sering ditantang di perpustakaan di seluruh Amerika Serikat. Pada tahun 2025, sebanyak 11 judul buku menjadi sorotan karena upaya untuk membatasi akses dan pembacaannya.

Daftar Buku yang Banyak Ditantang

Berdasarkan laporan ALA, berikut adalah 11 buku yang paling sering ditantang:

  • 1. Sold oleh Patricia McCormick
  • 2. The Perks of Being a Wallflower oleh Stephen Chbosky
  • 3. Gender Queer: A Memoir oleh Maia Kobabe
  • 4. Empire of Storms oleh Sarah J. Maas
  • 5. Last Night at the Telegraph Club oleh Malinda Lo (terikat dengan)
  • 5. Tricks oleh Ellen Hopkins (terikat dengan)
  • 7. A Court of Thorns and Roses oleh Sarah J. Maas
  • 8. A Clockwork Orange oleh Anthony Burgess (terikat dengan)
  • 8. Identical oleh Ellen Hopkins (terikat dengan)
  • 8. Looking for Alaska oleh John Green (terikat dengan)
  • 8. Storm and Fury oleh Jennifer L. Armentrout (terikat dengan)

Tren Tantangan Buku di 2025

Banyak dari judul ini juga muncul dalam laporan PEN America yang dirilis pada Oktober lalu, yang menyoroti tantangan dan larangan buku di sekolah umum. ALA mencatat bahwa total ada 4.235 judul yang dihadapi tantangan pada tahun 2025, menjadikannya sebagai tahun kedua tertinggi dalam catatan tantangan perpustakaan, setelah 2023 yang mencatat 4.240 tantangan.

Menurut ALA, 40% dari semua materi yang ditantang pada tahun 2025 adalah representasi orang-orang LGBTQ+ dan orang-orang kulit berwarna. Hal ini menunjukkan bahwa isu keberagaman dan inklusi masih menjadi persoalan sensitif dalam literasi publik.

Statistik Tantangan Buku

Secara keseluruhan, ALA mencatat 713 upaya untuk menyensor bahan dan layanan perpustakaan di seluruh Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 487 tantangan ditujukan kepada buku. Data menunjukkan bahwa 92% dari semua tantangan terhadap buku datang dari kelompok tekanan, pejabat pemerintah, dan pengambil keputusan lokal. Di antara tantangan ini, 20.8% berasal dari kelompok tekanan seperti Moms for Liberty, sementara 70.9% berasal dari pejabat pemerintah dan pengambil keputusan.

Akhirnya, ALA juga merinci bahwa 31% tantangan berasal dari pejabat pemerintah terpilih dan 40% dari anggota dewan atau administrator. Hanya 2.7% tantangan yang berasal dari orang tua dan 1.4% dari pengguna perpustakaan individu.

Dampak untuk Masyarakat

Lebih dari setengah tantangan, yaitu 51%, terjadi di perpustakaan umum, sedangkan 37% terjadi di perpustakaan sekolah. Tantangan lainnya ditujukan kepada kurikulum sekolah dan pendidikan tinggi. ALA mendefinisikan larangan buku sebagai penghapusan materi, termasuk buku, dari perpustakaan, sedangkan tantangan didefinisikan sebagai upaya untuk menghapus sumber daya perpustakaan atau membatasi akses ke sumber daya tersebut.

Dalam konteks Indonesia, isu pembatasan akses terhadap buku dan informasi serupa dapat menjadi perhatian. Masyarakat perlu waspada terhadap upaya-upaya yang dapat mengurangi kebebasan berpendapat dan berekspresi, terutama dalam konteks pendidikan dan literasi. Kebebasan dalam mengakses informasi adalah hak asasi yang harus dijaga agar masyarakat dapat memperoleh pengetahuan yang luas dan beragam.

Kesimpulan

Daftar buku yang ditantang ini menunjukkan adanya pergeseran dalam cara masyarakat merespons isu-isu sosial dan budaya. Penting bagi kita untuk memahami dampak dari tindakan tersebut terhadap kebebasan berpendapat dan hak akses terhadap literatur yang beragam. Dengan memperhatikan tren ini, diharapkan kita dapat mendorong diskusi yang lebih terbuka dan inklusif mengenai buku dan ide-ide yang terkandung di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *