Perayaan Ramadan di New York, Mamdani di acara iftar
berita

Perayaan Ramadan di NYC: Kebangkitan Budaya dan Tantangan

Wali Kota Zohran Mamdani baru-baru ini menempatkan Ramadan di pusat kehidupan budaya Kota New York, menghadirkan kegembiraan namun juga memicu reaksi balik. Dalam acara berbuka puasa (iftar) yang diadakan di Museum Kota New York, Mamdani berdiri di tengah sekelompok pekerja kota yang diundang untuk merayakan.

“Tidak setiap hari kita melihat keragaman kehidupan Muslim di New York City berkumpul dalam satu ruangan,” ungkap Mamdani dengan senyum khasnya. “Sekali lagi, Ramadan mubarak, teman-teman,” tambahnya. Momen ini menjadi simbol kebanggaan tidak hanya bagi komunitas Muslim yang berjumlah sekitar satu juta di kota tersebut, tetapi juga bagi banyak Muslim di seluruh Amerika Serikat.

Pangkalan Kekuasaan Baru Mamdani

Sejak setahun terakhir, Mamdani mengalami kenaikan yang luar biasa dari seorang politikus Demokrat Sosialis di legislatif negara bagian menuju puncak kekuasaan di kota terbesar di AS. Dalam pidatonya pada 12 Maret, Mamdani menyebut pertemuan tersebut sebagai tindakan pembangkangan terhadap diskriminasi yang dihadapi komunitas Muslim. “Sejak lama, ada Muslim New Yorker di kota ini, tetapi selama itu pula, mereka yang berkuasa berusaha mendekati kami dengan cara yang tidak manusiawi,” tegasnya.

Tanggapan Terhadap Serangan Politisi Lain

Pernyataan Mamdani juga sebagai respons terhadap Senator Republik Tommy Tuberville dari Alabama yang sebelumnya membagikan gambar Mamdani yang merayakan iftar bersamaan dengan gambar serangan teroris 9/11, dengan kata-kata “musuh ada di dalam gerbang.” Tindakan ini ditanggapi Mamdani sebagai bentuk kebencian dan prasangka. “Ketika saya mendengar kebencian yang tidak terkontrol, saya merasakan isolasi yang mungkin juga dirasakan banyak dari Anda,” katanya kepada hadirin.

Serangan terhadap Mamdani tidak berhenti di situ. Setelah mengkritik mantan Presiden Donald Trump mengenai keputusan perang melawan Iran, salah satu penyiar radio paling berpengaruh di New York, Sid Rosenberg, menyerang Mamdani di media sosial dengan sebutan yang merendahkan, seperti “kecoak” dan menuduhnya membenci orang Yahudi. Tindakan ini pun dibalas oleh Mamdani dengan menyebutnya rasis dan menyakitkan bagi komunitas Muslim.

Ketegangan yang Meningkat

Ketegangan kembali meningkat pada 7 Maret, ketika sekelompok kecil aktivis sayap kanan berkumpul di luar kediaman resmi Mamdani di Manhattan, menyerukan akhir dari apa yang mereka sebut sebagai “pengambilalihan Islam di New York City.” Dalam pertemuan tersebut, terjadi bentrok dengan para penentang dan dua pria Muslim dari Pennsylvania diduga melemparkan bahan peledak yang tidak meledak. FBI mengungkapkan bahwa serangan tersebut terinspirasi oleh ISIS, dan meskipun tidak ada yang terluka, kedua pria tersebut kini menunggu persidangan.

Mamdani menyatakan, “Meskipun saya menemukan protes ini sangat mengejutkan, saya tidak akan ragu untuk menyatakan bahwa mereka memiliki hak untuk melakukannya. Kita hidup di kota yang bebas, di mana hak untuk berdemonstrasi sangat dihargai.”

Kesimpulan

Islamofobia bukan hal baru di AS, namun dalam beberapa minggu terakhir, intensitasnya semakin meningkat, terutama terhadap Muslim Amerika. Perayaan Ramadan yang dipimpin Mamdani menjadi momen penting, tidak hanya untuk merayakan keberagaman, tetapi juga untuk menentang diskriminasi yang masih ada. Semoga perayaan ini menginspirasi banyak orang untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *