Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) baru-baru ini mengumumkan pengembalian hak senjata bagi sejumlah narapidana, termasuk seorang senator dari Arizona yang terjerat kasus pemungutan suara palsu. Keputusan ini menarik perhatian publik karena melibatkan individu-individu dengan catatan kriminal yang sudah berlangsung lama.
Daftar Narapidana yang Mendapatkan Kembali Hak Senjata
Bulan lalu, DOJ secara diam-diam merilis daftar 22 nama melalui Federal Register. Tanpa banyak penjelasan, mereka mengumumkan bahwa individu-individu ini telah mendapatkan kembali hak senjata federal mereka. Kebanyakan dari mereka memiliki vonis feloni yang sudah bertahun-tahun lalu, dan banyak di antaranya telah hidup bertahun-tahun tanpa akses ke senjata api. Namun, terdapat satu nama yang menjadi perhatian khusus, yaitu Senator Jake Hoffman dari Partai Republik yang baru-baru ini diadili pada tahun 2024 terkait kasus pemungutan suara palsu pada tahun 2020.
Program Pengembalian Hak Senjata
Pengembalian hak senjata ini merupakan bagian dari upaya DOJ untuk menghidupkan kembali program yang telah lama tidak berfungsi, yang memungkinkan orang-orang dengan vonis feloni tertentu untuk mendapatkan kembali hak senjata mereka. Program ini bertujuan untuk menghapus ‘disabilitas’ dan mengembalikan perlindungan Amandemen Kedua bagi mereka yang tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi keselamatan publik.
Upaya ini dimulai kembali pada bulan April lalu, ketika sepuluh orang mendapatkan hak mereka kembali, termasuk Mel Gibson yang terlibat dalam kasus kekerasan ringan terhadap mantan pacarnya.
Dampak Hukum dan Sosial
Keputusan DOJ ini mengikuti putusan Mahkamah Agung AS yang bersejarah pada tahun 2022, dalam kasus New York State Rifle & Pistol Association v. Bruen, yang menggugurkan berbagai undang-undang senjata di AS, termasuk larangan bagi feloni untuk memiliki senjata api. Meskipun DOJ membela keputusan ini dengan menyatakan bahwa orang-orang dalam daftar tersebut hanya memiliki catatan kriminal non-kekerasan, banyak pihak yang khawatir akan celah hukum yang mungkin muncul.
Beberapa penerima pengembalian hak senjata, seperti Nick Sabatine, seorang pengacara berusia 74 tahun dari Pennsylvania, mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya untuk kembali berburu. Namun, kelompok kontrol senjata dan kritikus lainnya menyatakan bahwa kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan dan termasuknya Hoffman dalam daftar bisa menciptakan potensi bahaya di masa depan.
Tanggapan dan Kekhawatiran di Level Negara Bagian
Sementara pemerintah federal memberikan pengembalian hak melalui hukum federal, negara bagian masih dapat melarang individu tertentu untuk memiliki senjata melalui undang-undang lokal yang lebih ketat. Kris Brown, presiden kelompok pencegahan kekerasan senjata Brady United, menyatakan kekhawatirannya bahwa kurangnya transparansi ini dapat menyebabkan pelanggar kekerasan mendapatkan senjata mereka kembali.
Kesimpulan
Keputusan DOJ untuk mengembalikan hak senjata kepada narapidana, termasuk seorang senator yang terlibat dalam kasus penipuan pemilu, menimbulkan berbagai pertanyaan kritis tentang keamanan publik dan transparansi dalam penegakan hukum. Hal ini juga mencerminkan ketegangan antara hak individu dan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga keselamatan masyarakat.



